Seperti ketika harus meneguk air, saya selalu punya pilihan: air putih? Teh dengan gula atau tanpa gula? Jus lemon atau jus buah yang manis? Begitu rumitnya pilihan hati ketika kita ditanya "Apakah Anda sudah ikhlas?"
Ikhlas...setiap kata itu terlintas dibathin saya, seketika itu pula saya sering bertanya, "Apakah saya sudah ikhlas?"
Apakah ikhlas itu seperti ketika udara kita hela kedalam rongga hidung kita kemudian terhantar begitu rupa kedalam paru-paru yang kemudian akan memberikan nafas bagi kehidupan kita? Apakah ikhlas itu seperti jejak kaki yang selalu kita tinggalkan setiap saat kita melangkah? Apakah ikhlas itu nafas kita? Setiap kali itu pula saya mulai bertanya: Dimana standard keikhlasan itu? Mungkin..................
Setelah kita memberi tanpa meminta kembali imbalan
Setiapkali kita memaafkan tanpa kemudian mengungkitnya
Setelah bersalah atau merarasa bersalah kemudaian kita memohon maaf
Setiap kita mendapat cobaan lalu kita instropeksi diri
Setelah kehilangan lalu kita berpasrah diri pada Allah
Tentu saja hanya Allah yang Maha Tahu kadar keikhlasan kita
Namun lagi-lagi seperti dua sisi mata uang yang nyaris tak terpisah, begitu sulitnya kita ukur kadar keikhlasan kita
Nyaris kita selalu berpaling dengan pikiran kita apabila kita ucapkan keikhlasan. Padahal......Ikhlas ada di hati...
1 comment:
ikhlas, memang sesuatu yang sulit diukur. Terkadang sayapun tidak tahu apakah semua yang telah saya lakukan selama ini dapat mencapai "standar keikhlasan". Saya hanya mencoba melakukan sesuatu dengan hati dan cinta karena saya yakin jika kita melakukan sesuatu dengan hati maka kita tidak akan merasa terbebani dan jika kita melakukannya dengan cinta maka semua akan terasa lebih mudah serta menyenangkan. Dan semoga saja jika kebaikan itu dilakukan dengan hati dan cinta maka akan dapat lebih mudah dalam mencapai keikhlasan..
Post a Comment